Mutasi 'Ilegal', Dalil Untuk Kolusi Dan Nepotisme

Posted by On Sunday, July 02, 2017

(Hamba Allah Yang Dhoif)
 
Dalam Alqur'an Surah Al-Anfaal 28, Allah SWT mengatakan,"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar." Kemudian hadits Rasulullah SAW diriwayatkan dari Tabrani, "Jika seorang ayah keluar mencari pekerjaan dalam rangka untuk memberikan rezeki pada anak dan keluarganya, maka ia berada pada jalan Allah."

Lalu pada era modern ini muncul pemikiran bagaimana cara orang tua untuk melestarikan kekayaan dan harta benda pada anak-anaknya. Muncul sifat Fir'aun yang tidak disadari oleh orang tua. Takut miskin dan kelaparan bagi keturunannya, maka mereka berusaha memproteksi harta dan anak. Sayangnya, selain harta, jabatanpun pejabat saat ini berusaha untuk menurunkan pada anak dan keluarganya meskipun tidak sesuai dengan keahliannya.

Nepotisme merupakan salah satu bentuk yang kerapkali dilakukan oleh pejabat-pejabat daerah, khususnya pada daerah tingkat desa sekalipun. Dengan alasan putera daerah, mereka menempatkan anak-anak mereka, adik, sepupu, mantu dan sebagainya untuk sebuah jabatan ataupun kekuasaan. Pejabat tinggi seenaknya melakukan mutasi ilegal demi kejayaan semata melalui tangan-tangan politiknya. Semua hanya untuk harta dan tahta mereka.

Orang tua seringkali tidak memandang darimana dapatnya harta benda dan jabatan itu. Perangai Fir'aun mulai merasuki dengan mewariskan pada garis keturunannya. Ketika masih banyak yang mampu dan mempunyai kinerja tinggi menempati suatu jabatan, tetap akan dibantah dengan alasan kedekatan politis. Padahal kinerja pejabat yang direkomendasikan itu tidaklah sepadan dengan posisi yang diletakkan.

Misalnya pada pembangunan daerah yang selama ini, yang namanya proyek tetap dimonopoli oleh keluarga pejabat dan kroni. Tidak lain dan tidak bukan untuk memperkokoh kekuasaan dan kekayaanpun akan terus dinikmati oleh keluarga dan kolega. Internal connection alias nepotisme dalam hal proyekpun bukan barang tabu lagi bagi keluarga pejabat. Fir'aun zaman modern lebih terorganisir dan administratif ketimbang Fir'aun zaman jahiliah dahulu. Mengaku beragama tapi menjalankan perangai Firaun gaya lama, meletakkan seseorang atas 'like' dan kesamaan politis semata.

Orang berburu mereguk jabatan hanya untuk prestise dan mengejar kekayaan. Falsafah melayani masyarakat tereliminasi akibat kepentingan politis kroni-kroni pejabat tersebut. Materi merupakan standar pelayanan saat ini. Mereka ternyata takut jika masa depan kelam. Jabatan dan uang penyebab segalanya. Mengenai hal ini patut disadari atau tidak kita telah terjebak pada budaya kapitalisme yang mengukur uang adalah segalanya. 

Lalu apa harapan kita untuk kepemimpinan bangsa mendatang ? Kembali kepada falsafah bangsa kita yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Keadilan harus tetap ditegakkan dan kembali lagi pada firman tuhan, "Kalau sebuah pekerjaan diberikan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran." Itu statement tuhan yang tak bisa kita anggap main-main, dan tentu inilah awal dari kehancuran bangsa kita saat ini. Kalau kita ingin menjadi bangsa yang maju dan hebat, tentu kita harus berubah. Harus segera menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Katakan tidak pada KKN, Korupsi, kolusi dan nepotisme. Apapun alasannya, itulah penyebab krisis berkepanjangan yang melanda negara kita.

Putera daerah Riau harus mampu menyikapi semua dengan kinerja. Berfikir besar dan bertindak besar, bukan berbicara besar di setiap kesempatan. Generasi kita harus 'Talk less do more', sedikit bicara banyak bekerja. Pengalaman sejarah telah membuktikan pada generasi tua kita yang selalu 'no action talking only.' Selalu berbicara akan tetapi tak pernah merealisasikan apa yang dibicarakan itu. Semoga dengan kepemimpinan baru, kita mampu bangkit menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain. Menjadi bangsa yang sejahtera lahir dan batin sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh pendahulu bangsa kita dahulu... ***

Oleh : Beni Yussandra, SE (Putera Pejuang Kemerdekaan RI di Propinsi Riau)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »