Makanan Napi Jadi Ajang Bisnis, Dugaan Pungli Berkedok Koperasi Di LP Pekanbaru

Posted by On Friday, July 28, 2017


Pekanbaru, (puterariau.com)

Lembaga Pemasyarakatan Gobah Pekanbaru sedang diselimuti kabar tak sedap. Kabarnya, masyarakat telah dibohongi mentah-mentah terkait modus koperasi oleh oknum-oknum tertentu. Bermodus koperasi mereka menjual makanan ke narapidana.

Untuk tidak memfitnah, sebut saja Sawaluddin. Pegawai Lapas bagian koperasi menjual aneka sambal ke dalam Lapas Pekanbaru. "Ini semua bermoduskan koperasi," sebut sumber lapangan. Jika orang tidak mengetahui, pasti ia mengatakan sambal dan aneka kue tersebut dijual kepada keluarga pengunjung. 

Padahal alasan itu sangat membohongi masyarakat, terutama jika ada yang bertanya, misalnya wartawan yang pernah mengkonfirmasikan hal ini pada Kakanwilmenkumham yang lama (Ferdinan Siagian-red). Saat itu, Kakanwil terkesan menutupi Lapas yang mengatakan bahwa makanan yang dijual di kantin itu adalah untuk keluarga pengunjung. Padahal sebenarnya, makanan itu dijual untuk napi yang ada di dalam Lapas.

 Hal ini terungkap saat rekan pers membuntuti salah seorang penyuplai makanan ke salah satu rumah di depan LP Pekanbaru. Sebut saja Ibu DS. Ia tiap hari mengantar makanan seperti gorengan, bakwan, lontong dan lotek serta semua aneka jenis sarapan pagi ke penampung yang direkrut koperasi di bawah naungan Pak Sawaluddin itu untuk sarapan pagi. Belum lagi buat makan siang. Karena jatah untuk ibu ini, khusus untuk sarapan pagi hampir sekitar 150 gorengan.

 Siang harinya, buat makan siang, seperti aneka sambal lebih kurang 40 sampai 50 bungkus. Menkumham seharusnya bisa memantau lewat Kakanwil Kemenkumham Riau atas penyimpangan yang dilakukan anak buahnya ini karena telah menyalahi aturan yang dibuat Pemerintah RI. Karena seharusnya makanan untuk para napi sudah disubsidi negara, apalagi yang sudah dijatuhi hukuman oleh hakim dan didapati bersalah.

 Dikatakan bahwa negara sudah menanggung konsumsi mereka berjumlah Rp.16.000 per hari. Namun untuk mencari keuntungan dalam kesempitan, maka dibentuk semacam pungli dengan bermoduskan koperasi. Jika Sawaluddin membeli melalui koperasi per bungkus sekitar Rp.8250 per sambal, dijual ke napi antara Rp.12.000 hingga Rp.15.000. Jumlah napi LP Pekanbaru sekitar 1500 orang, berapa keuntungannya ? Waw sajalah, hehehe...

Sementara itu ketika dikonfirmasikan ke Kakanwilmenkumham Riau melalui Kepala Divisi LP Propinsi Riau, Lilik S. Pihaknya berjanji akan melakukan investigasi terhadap laporan ini. 

Dikatakan bahwa tidak benar melakukan pungli apalagi jika pegawainya melakukan hal itu. "Jika memang benar, pegawai itu akan kami beri sanksi tegas," tegasnya.

Selang beberapa hari, Lilik S bukan hanya berikan janji hisapan jempol semata, ia langsung membentuk tim untuk memeriksa koko sawaludin melalui Ketua Tim Adi, Kabid Lembaga Pemasyarakatan Pekanbaru dan sampai berita ini diturunkan belum diketahui apa hasil penyidikan itu. (gusman/beni/tim)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »