Bagi-Bagi Sajadah Tak Ikhlas, Reses Anggota DPD RI Di Sungai Guntung Ini Jadi 'Bernoda'

Posted by On Saturday, July 29, 2017


Sungai Guntung, (puterariau.com)

Anggota DPD RI Intsiawati Ayus datang berkunjung ke Kelurahan Tagaraja Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir dalam rangka membahas tentang hamparan kelapa di Inhil. Ia mengadakan acara reses tersebut di aula Kantor Camat Kateman.

Dalam paparannya, Instiawati Ayus mempersoalkan sudah sepantasnya petani kelapa di Inhil Utara sejahtera. Ia cukup menyayangkan petani kelapa tak kunjung terangkat ekonominya karena harga yang tak menentu.

"Harga kelapa kadang naik kadang turun," sebut Instiawati Ayus pada tokoh masyarakat yang hadir.

Salah seorang tokoh masyarakat Kateman, H. Nandrang memberikan kritikan pada Bu Iin ini. Sebab hingga detik ini, masyarakat Kecamatan Kateman menjadi hambe dan hanya selalu diberi janji manis politikus. 

Hal ini turut dibenarkan warga seputar PHP politisi meraup suara untuk kepentingan politik semata, sementara belum ada satu pun solusi yang bijak untuk masyarakat setempat.

Apalagi menuju tahun politik ini, seluruh kandidat rame-rame jual muka dan jual diri dengan menyebut mampu membikin program bagus buat rakyat Inhil Utara. Padahal itu semua masih terkesan hoax. Hingga kini jangankan wakil rakyat, Bupati dan Gubernur, Presiden pun dirasa belum mampu menunaikan janji politiknya pada masyarakat Inhil Utara.

Kejadian unik yakni ketika rapat selesai, anggota DPD RI tersebut membagikan sejadah kepada tokoh-tokoh masyarakat yang ada.

Hanya saja dalam pembagian sajadah tersebut, anggota DPD RI Instiawati Ayus melontarkan bahasa yang kurang enak didengar oleh segelincir tokoh-tokoh masyarakat. Dengan kalimat "Yang dapat sajadah hanya yang ikut rapat di dalam aula Kantor Camat saja, yang di luar tak usah ngambil karena yang gak ikut reses tak menghargai tu," kata Instiawati Ayus yang terhormat tersebut.

Seorang tokoh masyarakat Kateman yang enggan disebut namanya menyebut jika Instiawati Ayus terlalu lebay. "Kalau mau beramal untuk bagi-bagi sajadah, kok macam gak ikhlas," katanya.

Memang diakui bu Iin ini cukup cantik, tapi dalam kehidupan politik tak butuh cantik saja, etika berbahasa sangat perlu. Melayu itu sangat dalam etika, kalau berucap tak patut tentulah menjadi sebuah noda. Kalau memang tak sudi memberi sajadah, jangan dibawa ke Sungai Guntung, apalagi membuat sakit dalam hati masyarakat setempat. (ridho/pr)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »