‘Andai Partainya Abu Nawas Ikut Pemilu’

Posted by On Saturday, July 01, 2017



Alkisah disebutkan bahwa Baginda Harun al-Rasyid gelisah dan murung. Seluruh elit-elit kabinetnya tak ada yang sanggup menemukan jawaban yang dilontarkan beliau. Bahkan, sang penasehat atau pakarnya pun tiada mampu memberikan penjelasan yang memuaskan. Lalu muncul ide dari salah seorang penasehat agar mencoba mempertanyakan hal yang digusarkan Baginda pada Abu Nawas.

Singkat cerita, dipanggillah Abu Nawas ke istana. Baginda Harun al-Rasyid memberikan dua pertanyaan pada ia. “Yang pertama, dimanakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Allah ini ?” tanya Baginda.

“Di alam pikiran, wahai paduka,” jawab Abu Nawas dengan tenang. “Paduka yang mulia, ketidakterbatasan itu ada karena ada keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan Allah didalam otak manusia. Dari itu manusia tiada akan pernah tahu dimana batas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tidak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas,” lanjut Abu Nawas.
Jawaban Abu Nawas membikin Baginda Harun al-Rasyid mulai tersenyum. Karena penjelasannya cukup rasional. Kemudian beliau melontarkan pertanyaan kedua. “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak jumlahnya, bintang-bintang di langit atau ikan-ikan di laut ?”

“Ikan-ikan di laut,” jawab Abu Nawas sigap. Baginda Harun al-Rasyid seketika meminta penjelasan kenapa jawaban Abu Nawas begitu yakin dengan jawabannya.

“Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkap dalam jumlah yang banyak, namun jumlah mereka tetap banyak seolah-olah tidak pernah berkurang. Sementara bintang-bintang itu tiada pernah rontok, jumlah mereka juga banyak,” jawab Abu Nawas lagi dengan tangkas. Seketika itu juga rasa penasaran Baginda Harun al-Rasyid sirna karena telah diberi penjelasan yang jitu dan terarah.

Itulah kelebihan Abu Nawas. Cerdas, cerdik dan suka menyenangkan hati. Meskipun terkadang cukup menjengkelkan, namun perilakunya teramat disenangi banyak orang. Ia mampu menyelesaikan sesuatu permasalahan dengan jitu, adil dan bijaksana.

Bila saja Abu Nawas mendapat kesempatan menjadi pemimpin di negeri ini, sudah barang tentu ia telah mempunyai trik-trik khusus untuk menyelamatkan rakyat dari segala krisis multi dimensi yang terjadi. Ataupun ia mendirikan Partai Politik yang tujuannya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia tanpa embel-embel dan janji-janji manis yang dilakoni oleh berbagai Parpol yang ada dalam Pemilu. Dijamin, carut marut oleh wakil rakyat saat ini akan tereliminasi dengan sendirinya.

Bolehlah kita berasumsi bahwa tidak akan ada permasalahan-permasalahan yang dapat merusak tatanan kehidupan kita. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme akan diberantas dengan trik jitu. Kasus korupsi E-KTP, penggelapan pajak, Bank Century, hukum dan HAM yang terkangkangi, sengketa lahan, kemiskinan, kebodohan, infrastruktur hingga penyakit masyarakatpun boleh jadi akan dapat teratasi.

Mungkin tanpa KPK-pun, Abu Nawas dapat menangkap ‘aktor’ utama kasus E-KTP, kasus mafia minyak, kasus narkoba dan lain sebagainya. Mungkin, maling-maling di negeri ini akan ‘drop’ akibat strateginya. Sehingga, kesejahteraan rakyat yang diidamkan tersebut akan berwujud nyata adanya.

Mungkinkah ada tokoh sekaliber ataupun identik dengan Abu Nawas saat ini ? tentu ada jawabnya. Sesungguhnya, masih ada bagi mereka yang berjiwa kemanusiaan. Tokoh yang berwibawa dan berkharisma namun low profile. Bisa berasal dari kalangan atas maupun kalangan bawah. Mempunyai kecerdasan dan kecerdikan untuk jalan kebenaran dan keadilan. Kita berharap tokoh semacam itu yang akan hadir dalam Partai Politik kedepan. Bukan tokoh-tokoh yang doyan ‘mengibuli’ dengan menyembah rakyat hanya dalam waktu lima tahun sekali. ***

Oleh : Fadila Saputra (Putera Pejuang Riau, Ketua Umum Putera Pejuang Penerus Bangsa Propinsi Riau)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »