Meskipun Pakai BPJS, RSUD Arifin Ahmad Tetap Bebankan Biaya Rawat Inap Yang Mahal Pada Pasien

Posted by On Wednesday, June 28, 2017


Pekanbaru, (puterariau.com) -----

Presiden Jokowi agaknya telah berbicara tegas di depan publik terkait program BPJS. Berulang-ulang Presiden pilihan rakyat itu menggaungkan bahwa masyarakat yang mengikuti program BPJS tidak dikenakan biaya perobatan meskipun dirawat inap. Tapi apa hendak dikata, Presiden apa kata Presiden, pihak Rumah Sakit apa kata Rumah Sakit alias himbauan Presiden itu menjadi hoax di mata masyarakat. Pasalnya, pihak RS selalu menarik pembayaran dari peserta BPJS !

Direktur RSUD Arifin Ahmad, Nuzeli Khusnedi bisa saja mengatakan bahwa pada prinsipnya semua pasien BPJS yang memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan BPJS tidak ada pembayaran lagi. Namun kenyataan di lapangan tidak seperti yang diucapkan oleh sang Dirut.

Misalnya saja pada salah seorang warga Pekanbaru yang bernama Gus, pengguna kartu BPJS kelas 1 yang baru-baru ini berobat dan dirawat di RSUD Arifin Ahmad kamar 303 Ruang Anggrek. Saat hendak pulang, Gus harus membayar biaya rawat inap selama dua hari dengan uang jaminan sebesar Rp.2.500.000. Iapun sempat bertanya kepada kasir apakah pengguna BPJS tetap dikenakan biaya meskipun sudah penat bibir Presiden Jokowi mengatakan bahwa masyarakat yang ikut program BPJS tidak dikenakan biaya lagi. 

Apalagi dengan biaya dua hari menginap di RSUD Arifin Ahmad lebih mahal ketimbang menginap di hotel lumayan mewah, nah lho...

Apa jawab kasir RSUD Arifin Ahmad ? "Iya Pak, tetap bayar walau ada kartu BPJS," sebutnya. Ketika ditanya kembali mengenai tak ada gunanya kartu BPJS disebut gratis alias buang-buang duit rakyat saja membayar iuran namun masih tetap membayar, ia lantas menjawab "Ya begitulah Pak," dengan tanpa merasa ada beban.

Gus meminta kejelasan tentang BPJS yang diagung-agungkan itu. Padahal rakyat sudah membayar sesuai kelasnya masing-masing atau adanya pengkotak-kotakan antara kelas miskin, menengah dan kaya. Kalau memang tidak ada pembayaran, kenapa Pemerintah Propinsi Riau melalui RSUD masih memungut uang rakyat lagi ? Ia berharap Presiden Jokowi dan jajarannya segera tegas menyelesaikan permasalahan ini. "Jika memang harus bayar, berarti selama ini rakyat telah dibohongi atas nama BPJS," ujar Gus.

Demikian pula dengan salah seorang pasien, Melati, yang dimintai tanggapannya mengenai hal ini. Jika tidak mengikuti program BPJS, tentu membayar persalinan yang sangat besar karena melahirkan dengan cara operasi cesar. "Biayanya lebih kurang 18 jutaan," katanya. Mau tak mau, ia tetap harus mengikuti program ini demi mendapat pelayanan kesehatan yang jauh dari kesan gratis.

Namun, Melati dari Propinsi Kepri ini merupakan salah satu contoh pasien BPJS yang bebas dari biaya apapun. Artinya di Kepri saja bisa menggratiskan biaya perobatan, tapi kenapa di Riau malah tidak bisa ? Kok induk bisa kalah dengan anak ?

Ketakutan warga selama ini juga bukan sebuah hal tanpa dasar. BPJS tidak kalah jauh beda dengan Jamkesmas atau Jamkesda yang menjadi kelas rakyat jelata bagi pihak Rumah Sakit. Selain pelayanan dan ruangan, obatnya pun dibuat berbeda. Obat paten untuk orang kaya, obat generik untuk kelas rakyat. Ini pernah disaksikan langsung oleh Putera Riau ketika merawat salah seorang keluarga di RSUD Arifin Ahmad beberapa waktu lalu. Saat kunjungan dokter dengan perawat-perawatnya, terdengar pembicaraan masalah obat yang direkomendasikan dokter terhadap pasien pengguna kartu miskin. Artinya, kotak-kotak itu sudah sangat terasa pada pelayanan dan pengobatan di RSUD sejak dahulu. 

Dirut RSUD Arifin Ahmad, Nuzeli Khusnedi saat ditanya Gus bahkan mengatakan bahwa pengguna kartu BPJS berobat gratis, tapi ketika faktanya pada Gus harus bayar, ia pun terdiam seribu bahasa. Artinya apa yang dikatakan pejabat di Riau ini selalu berbau hoax karena mereka belum pernah mencicipi rasa sebagai rakyat kecil. Ibaratnya berpidato hebat menggelegar, isinya terkesan hanya tipu-tipu semata. Semoga ada upaya Pemprop Riau untuk segera mengusut kasus ini agar tidak terjadi lagi pada Gus-Gus yang lain. (Beni/pr)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »