Ketimpangan Sosial Petani Terus Ada, Bagaimana Dengan Status Saya Pancasila ?

Posted by On Thursday, June 01, 2017



Bukit Kerikil, (puterariau.com) -----

Adalah Mbah Kliwon dan keluarganya yang menjual cabe merah keriting hanya laku Rp.8000 per kilo gram. Bagaimana bisa hidup layak dan manusiawi ? Sementara status kepemilikan tanahnya masih kawasan hutan, berbeda dengan jarak 100 meter dari pemukimannya ada korporasi besar PT.Arara Abadi Sinar Mas Grup yang bahkan sudah punya sertifikat status kepemilikan lahan.

Inilah potret sebenarnya rakyat di pinggiran hutan Desa Bukit Kerikil Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau. Adakah Pancasila sudah menjadi realitas berfikir, realitas kebudayaan dan realitas kehidupan nyata berbangsa dan bernegara ?

Sejatinya makna keberadaan Pancasila bukan pada sebatas menghafal rumusannya, tapi Pancasila adalah praktek hidup. Bagaimana mereka bisa berteriak 'Saya Pancasila', sementara mereka hidup enak dan layak akan tetapi rakyat kecil hidup hancur-hancuran dan melarat ? Mereka nyatakan Pancasila tetapi prakteknya jauh dari ketuhanan, perikemanusiaan, persatuan, kerakyatan apalagi keadilan ?

Selama Pancasila tidak menjadi praktek hidup bernegara dan berpemerintahan, rasanya Pancasila hanya sebagai alat pemadam kebakaran saja, jika setelah padam, maka dilupakan lagi. Apalagi sila ke-lima, yang berbunyi 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia' dihubungkan dengan nasib petani, masih terseok-seok. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Laboratorium kedaulatan pangan agribisnis kerakyatan PETANI unit Riau, Sahat Mangapul Hutabarat pada redaksi Putera Riau.

"Program pertanian yang tidak berpihak, impor yang tidak terkontrol, pembangunan zona industri di atas lahan pertanian semakin mempersempit kesejahteraan dan keberlangsungan hidup petani. Jati diri bangsa Indonesia haruslah kita jaga sebagai negeri agraris dan maritim yang berlandaskan Pancasila," ujarnya.

Pancasila seakan hanya milik sekelompok orang yang berkuasa, sebab untuk rakyat kecil khususnya petani masih terdapat ketimpangan. Sebagaimana diketahui, negeri ini dibangun atas komitmen para 'founding father' kita, jangan sampai lenyap akibat keserakahan segelintir orang. Sebab pemerataan kesejahteraan merupakan salah satu tujuan bangsa Indonesia sejak dahulu.

Nah, terkait hal ini, Mbah Kliwon dan masyarakat desa saat ini harus berhadapan dengan kasus yang justeru dari ketidakadilan, korupsi dan tidak adanya perhatian Pemerintah daerah hingga keberpihakan Pemerintah Pusat. Misalnya saja pengaduan masyarakat terkait kasus-kasus yang ada tidak terdapat rasa keadilan, apakah mereka masih menyatakan saya Pancasila ?

Kasus pungli E-KTP di Pemerintahan Desa Bukit Kerikil saja misalnya, laporan sudah masuk ke Polda Riau. Dimana Petani menyatakan adanya dugaan pungli oleh oknum-oknum Kepala Desa dan Aparatur Sipil Negara pada Mei 2016 lalu. Kasus ini bahkan juga telah dilaporkan ke Ombudsman RI Perwakilan Riau, namun hasil penelusuran mereka malah tidak ditemukan adanya tindakan Pungli. Ombudsman bahkan telah memerintahkan untuk mengembalikan uang tersebut, namun hingga saat ini tak kunjung dilaksanakan. Masih layakkah keadilan bagi masyarakat kecil ? Masih yakinkah menyebut saya Pancasila ?

Sahat Mangapul juga membeberkan perihal pungli pasang baru meteran listrik yang sempat heboh di beberapa media online. Namun hal itu masih sebatas penelusuran dan penelusuran. Belum ada solusi yang arif dari seluruh elemen yang ada. "Dimana keadilan untuk petani kecil ?" sebutnya lagi.

Mbah Kliwon dan masyarakat Desa Bukit Kerikil masih terus menghadapi kenyataan pahit di hari kelahiran Pancasila. Berhadapan dengan aparat desa yang diktator, berhadapan dengan mafia jaringan pembalakan liar yang tak kunjung tuntas diatasi. "Sampai kapankah ini akan berakhir ?" lirih Sahat Mangapul.

Agaknya status facebook, twitter, dan sosmed yang diungkapkan berjuta netizen di hari Pancasila belum lengkap jika keadilan sosial bagi rakyat, khususnya masyarakat kecil masih diliputi berbagai ketimpangan. Semoga ini menjadi renungan bagi kita yang sudah merasa Pancasilais, tapi di hati masih ingin hidup senang sendiri, kaya sendiri, enak sendiri tanpa memikirkan kehidupan orang lain. (Beni Yussandra/ht/pr)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »