'Nasib Petani Di Era Globalisasi, Sudah Merdeka Atau Masih Dikebiri ?'

Posted by On Monday, May 29, 2017

(Petani kelapa yang tersenyum sumringah ketika melihat hasil panen di Keritang)

Anak-anak yang sedang tumbuh di sekolah saat ditanya Pak Guru dan Bu Guru tak pernah mau menjadikan petani sebagai cita-citanya. Barangkali profesi petani adalah profesi yang sangat dihindarkan oleh mereka atau memang ada pesan dari orang tua kalau cita-cita itu yang bagus-bagus saja (Yang Njlimet mungkin). Nah, lho...petani bukannya bagus ya ? Barangkali itu sebahagian pandangan dari masyarakat kita yang menganggap petani kasta kelas bawah.

Ketidakinginan orang tua pada anak-anaknya bercita-cita demikian cukup beralasan. Bisa jadi karena petani saat ini benar-benar dieksploitasi oleh kekuasaan. Artinya, kaum petani dipolitikkan oleh kaum kapitalis hingga terjerembab dalam kasta bagian bawah. Atau memang kaum petani bisa diombang-ambingkan oleh toke-toke kapitalis ? jawabannya juga bisa. Atau mungkin ada yang menganggap petani itu kerjanya serba kotor tak berkantor ? Memang diakui, kerja di lapangan bersahabat dengan alam. Pesan orang tua, jika bisa bersahabat dengan alam, hiduplah kita, itu yang terbersit dalam pemikiran penulis.

Petani saat ini juga bisa diintervensi oleh elit politik. Kalau elit sudah tak respons, petani bisa gulung tikar. Umpama, petani padi daerah A, saat panennya mulai berhasil, sementara elit politik dan pemerintahan melakukan impor padi dari daerah B dengan harga miring. Tak ayal, posisi petani daerah A akan terperosok ke posisi kunci. Untuk bertahan hidup, tentulah membanderol hasil panennya dengan harga murah. Ini salah satu jurus menghancurkan kesejahteraan petani A itu.

Bisa juga akibat kecemburuan sosial terhadap petani yang terbilang sukses, entah petani sawit, petani pinang, petani kelapa, petani karet atau yang lainnya. Kalau petani itu sukses tentu dapat mengangkat harkat dan martabat keluarganya. Bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi, bisa membeli ini dan itu, pokoknya bisa menikmati hidup lebih hidup.

Tentunya sang petani sukses takkan tergantung oleh bendera politik. Petani tidak ikut urusan korupsi-korupsian. Kalau petani itu berhasil, ya bisa disebut keberhasilan yang sempurna. Sangat berbeda jauh dengan elit maupun birokrat yang rawan dengan perilaku korup dan manipulasi. Kalau tak percaya, turun ke lapangan saja biar tampak jelas buktinya.

Bisa jadi salah satu alasan elit politik mengeksploitasi petani adalah untuk membawa mereka ke ranah politik. Satu contoh, jika ada program untuk meningkatkan kesejahteraan mereka disebabkan suatu permasalahan (entah gagal panen, harga yang rendah, produksi yang turun) biasanya elit politik akan menampilkan salah satu sosok kandidat. Biasanya bertujuan untuk menjaring suara petani ke dalam suatu bendera politik atau pemimpin politik. Mau tidak mau, petani pun terjerat nuansa politik.

Petani juga mudah diperalat oleh oknum-oknum pemerintahan. Dalam beberapa waktu lalu, ada program pemberian bibit atau bantuan modal. Misalkan berbentuk kelompok tani. Disini petani punya tenaga, oknum penyelenggara pemerintahan punya fasilitas dana. Perselingkuhan akan terjadi dengan mengatasnamakan kalau tidak karena saya. Yaitu, sang oknum akan menjelaskan bahwa anggaran bisa cair karena dirinya dan kerja sama dengan atasan. Nah, anggaran yang semestinya digunakan untuk peningkatan taraf petani tadi dibelah semangka. Tentu bakalan tak ada satupun yang berani bersuara. Bahaya, men !

Ada lagi, kenapa jadi petani itu susah ? selain dianggap kaum yang kurang berpendidikan, petani juga mudah digoyahkan dengan statement resmi. Umpama, kalau harga komoditi pertanian dibanderol murah oleh sang toke, alasannya karena sesuai dengan harga komoditi dunia dan nilai tukar dollar terhadap rupiah. Benarkah ? Alasan ini paling sering digelontorkan oleh toke, dan sang petani menirukan ucapan toke pada sesamanya. Akhirnya, penjatuhan harga serendah mungkin oleh pengusaha dianggap hal yang wajar, padahal sang petani kembang kempis memikirkan periuk nasinya.

Bisa saja perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha menyebabkan jatuhnya harga komoditi petani tersebut. Misalkan pada petani sawit atau kopra. Walau harganya turun, namun hasil produksinya seperti minyak makan dan lain sebagainya tak akan pernah turun. Umpama pada suatu daerah yang harga komoditinya rendah, di tempat lain malah harganya tinggi. Kenapa bisa terjadi ? Alasannya bisa jadi karena tak merata, ataukah memang ada unsur kesengajaan agar petani itu benar menjadi kasta yang dinomorduakan di negeri ini.

Petani akhirnya diseret pada budaya kapitalisme hingga menciptakan petani-petani yang monopolistik dan individualisme. Sehingga petani saat ini berbeda dengan petani masa lalu. Petani kini telah terseret ke ranah politik dan hidup dibawah bayang-bayang bendera politik. Akhirnya petani yang kian eksis tentulah petani yang mampu mengkondisikan keinginan penguasa. Sampai kapankah negeri ini menciptakan kepalsuan semu yang akhirnya menjadi korban adalah petani itu sendiri. Petani yang diombang-ambingkan bendera politik. Petani oh petani...***


Oleh : Beni Yussandra, SE (Ketua Serikat Petani Indragiri)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »