Kapan Even MTQ Kecamatan Di Inhil Bisa Bersih Dari Peserta 'Carteran' ?

Posted by On Wednesday, May 17, 2017



Kotabaru, (puterariau.com)

Meskipun pada awalnya menargetkan juara umum pada MTQ Tingkat Kecamatan Keritang, akhirnya Kelurahan Kota Kotabaru Reteh berhasil meraih juara II pada even kali ini. Suatu kebahagiaan bagi Kelurahan Kotabaru Reteh adalah pesertanya merupakan putera daerah asli Sungai Gergaji dan sekitarnya. 

Sebagai informasi, Kelurahan Kotabaru berhasil menancapkan pesertanya menjadi pemuncak, yakni juara 1 tartil tingkat putera dan puteri, juara 1 tingkat Ibtidaiyah putera, juara 1 tingkat remaja putri, juara 2 tingkat dewasa putera dan juara 3 tingkat dewasa puteri dengan poin 24. Dengan catatan mereka adalah asli anak-anak daerah tempatan.

Namun menjadi kontroversi adalah tuan rumah, Desa Kuala Keritang yang meraih gelar juara umum. Informasi beredar bahwa mereka mengambil peserta 'carteran' dari luar Kuala Keritang semisal Tembilahan. Dari info lapangan, jika tidak dicarter, maka tidak akan ada peserta dari daerah ini. Artinya, gerakan magrib mengaji seharusnya membina dan menciptakan generasi muda yang islami dan berakhlak Qur'an belum dapat diharapkan dari desa ini. Bukan hanya mengejar target juara melalui 'carter', namun lebih pada pembinaan akhlak generasi muda Inhil kedepannya.

Desa Pancur saja misalnya, ada peserta yang diambil dari Kecamatan Kemuning Inhil. Namun ironis lagi, peserta itu asli dari Kuala Tungkal Propinsi Jambi. Kalau memang harus mengandalkan pemain cataran dalam even MTQ, agaknya seluruh sendi bidang kehidupan boleh juga dicarter. Kalau wakil rakyat daerah ini kurang bagus, kita carter saja dari anggota dewan dari Jambi, Padang ataupun dari Jawa. Demikian bila Bupati atau apapun kurang bagus, kenapa tidak dicarter saja Ibu Risma atau yang lainnya ? hehehe...

Kembali Persoalan, dimana dalam MTQ Propinsi saja ada syarat dan ketentuan peserta mulai dari umur yang harus sesuai dengan golongan juga masalah asal peserta yang mesti berdomisili dari daerah tempatan. Kalau tidak sesuai persyaratan, panitia berhak menolak peserta tersebut. Demikian MTQ tingkat Kabupaten, dimana sesuai kesepakatan LPTQ dimana dewan hakim diberi wewenang untuk menolak peserta yang tidak memenuhi syarat yang ditentukan. Artinya, peserta yang tampil adalah benar-benar putera asli daerah tempatan.

Mengenai MTQ Kecamatan Keritang kemarin, misalnya. Camat Keritang Syarifuddin sebenarnya sudah menegaskan saat rapat terakhir bahwa tidak boleh mengambil peserta yang bukan dari daerah setempat. Artinya, sinkron dengan himbauan Bupati Inhil HM Wardan bahwa tidak dibenarkan pada even MTQ ini untuk membayar peserta daerah lain hanya untuk mengejar kemenangan dan nama desa. Namun kenyataannya, saat even digelar, bermunculan peserta 'carteran' yang menjadi keheranan bagi semua pihak.

Pemain carteran itu ibarat pertandingan olah raga di Inhil. Ibarat turnamen Bola Voli ataupun sepakbola, suka mencari pemain luar. Kalau memang demikian, artinya program gerakan 'Magrib Mengaji' Bupati Inhil hanya sia-sia belaka, kenapa ? karena tidak dapat dijadikan acuan pembinaan generasi muda islam jika mereka tidak diberdayakan dalam even semacam ini. Konsekuensinya, daerah atau desa yang kaya dengan mengandalkan keuangannya bisa mencari dan membeli peserta yang terbaik, sehingga hal ini ibarat mengejar nama saja.

Kita berharap bahwa even MTQ kedepan benar-benar dijadikan ajang mencari bakat putera daerah, menciptakan dan memberdayakan generasi Qur'ani, serta ajang implementasi gerakan 'Maghrib Mengaji'. Hal ini dibenarkan oleh salah seorang guru ngaji Sungai Gerjaji, Abdullah Samad Jarkasi yang menyebutkan bahwa pihaknya merasa bangga dapat selalu menelurkan bibit-bibit baru dari Sungai Gergaji untuk dididik menjadi gerenasi Qur'ani yang berahklak mulia.
Seluruh pihak berharap agar kedepan, even MTQ di Inhil dijadikan ajang mencari bakat bibit unggul daerah. Bukan hanya mengejar nama atas nama kemenangan yang diperoleh. Kalau begitu wajar saja jika selalu dihelat kegiatan MTQ, namun belum mampu memperbaiki akhlak generasi muda. Dalam artian Qur'an dibaca dan dipertandingkan, korupsi terus merajalela dan dijalankan. Oh My God.... (pr/doc.red)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »