Barang Luar Bebas Masuk Sungai Guntung Luput Dari Pandangan, What Happen?

Posted by On Monday, May 29, 2017

Sungai Guntung, (puterariau.com) - I - Saat ini kemiskinan menjadi salah satu 'pekerjaan rumah' terberat bagi negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Dalam rilisan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir milenium ini saja, penduduk miskin di dunia mencapai 1,3 miliar. Demikian dengan Kabupaten Indragiri Hilir dalam rilisan dari TKPK (Tim Kordinasi Penanggulangan Kemiskinan) beberapa waktu lalu di Bappeda Inhil yang menyebut bahwa angka kemiskinan di Inhil meningkat selama tiga tahun terakhir sebesar 8,10 persen tahun 2015 yang sebelumnya 7,51 persen tahun 2014.

Apa hubungannya dengan Sungai Guntung ? Tentu menjadi pertanyaan di benak masyarakat awam. Salah satunya adalah persoalan ekonomi lokal yang seharusnya membaik, namun seiring beberapa 'hal' menjadi jalan di tempat. Kenapa ? Pertumbuhan penduduk yang tinggi tak sejalan dengan penciptaan lapangan kerja serta kondisi perekonomian nasional yang tak menentu. Ini menjadi kekhawatiran masyarakat Sungai Guntung terkait situasi perekonomian yang belum stabil plus masuknya barang-barang luar yang tak berizin ke dalam. Agaknya mungkin, ini masih mungkin ya, hal itu juga turut menyumbang naiknya angka kemiskinan di Inhil, Sungai Guntung pada khususnya, why not ?

Menurut Yusran, warga Baituddin RT 03 RW 09 Sungai Guntung turut menyampaikan kekhawatirannya pada Putera Riau. Misalnya ia menyorot permasalahan berjalan mulusnya barang-barang luar tanpa cukai masuk ke Sungai Guntung. "Kebanyakan barang dari Malaysia seperti racun rumput dan minuman bermerek lainnya. Bagaimana ekonomi kita tak rusak, barang lokal sudah tidak menjadi primadona lagi di negeri kita dengan masuknya barang-barang luar tersebut," sebutnya.

Ia mencontohkan harga ban sepeda motor second dari Malaysia jauh lebih murah ketimbang dari produk lokal. "Kita beli ban second Malaysia dengan kualitas lumayan bagus harga 50 ribu rupiah, coba beli ban baru produk Indonesia, harganya Rp.250 ribu, jauh selisihnya," kata Yusran menyebutkan. Hal itu menyebabkan minat warga yang tergolong memang miskin membeli yang jauh lebih murah, sehingga berimbas pada ekonomi kita. Hal itupun tidak menjamin bahwa orang kaya tidak akan membeli ban motor dari Malaysia, asumsinya lagi.

Warga lain dengan senada berharap kepada Bea Cukai untuk benar-benar bekerja di laut. "Keamanan di laut harus diperketat, kok masih bisa lewat juga barang-barang luar masuk ke Sungai Guntung dan wilayah Inhil lainnya sehingga merugikan negara," sebutnya. Kalau masuknya barang itu dapat meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi angka kemiskinan, tentu lain cerita. Masalahnya, masyarakat tetap miskin, pekerjaan pun tetap sulit didapati.
Masalah rokok tanpa cukai dari Batam saja misalnya, kalau ada pernyataan yang menyebutkan tidak ada itu berarti orang yang 'kuper' alias tak mengerti lapangan. Ia mempertanyakan ilmu apa yang dipakai penyelundup sehingga lihai dari pantauan aparat hukum atau karena 'skill' penyelundup lebih hebat ? Sampai saat ini, barang-barang luar tetap saja bebas masuk, meskipun Pemerintah Pusat mengumandangkan jargon 'Cintai Produk Indonesia'.

"Kita sangat berharap kepada Bapak Bea Cukai agar memperketat di laut, karena kalau tetap dibiarkan berapa banyak kerugian negara dibuatnya," harapnya. (Ridho/pr)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »