Sudahkah Negara Hadir Untuk Perjuangkan Nasib Guru Kita ?

Posted by On Friday, April 14, 2017



Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Pahlawan dalam arti luas tentulah mereka yang berjasa pada agama, bangsa dan negara. Jika kita berbicara lebih khusus lagi, penulis akan coba mengkerucutkan pada pahlawan tanpa tanda jasa, ialah para guru-guru kita yang sedang berjuang memberikan pengabdian jiwa dan badan mereka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejarah mencatat, politik etis yang dijalankan Belanda salah satunya kebijakan dalam mengangkat pegawai rendah dari Inlander untuk menjadi tenaga pengajar. Yang sulit bukanlah membangun sekolah dan lain sebagainya, tetapi bagaimana mendapatkan tenaga guru dari golongan Inlander sendiri. Waktu itu sangat sulit mendapatkan pribumi yang mampu menjadi tenaga pengajar (guru) sehingga Belanda harus mengirimkan guru-guru dari negerinya yang bergaji empat kali lipat dari profesi lain. Ya, guru adalah profesi yang sangat mulia dan bangsa penjajah sekalipun sangat menghargai profesi mereka dengan memberikan pendapatan yang lebih tinggi. 
Dalam kutipan salah satu petikan tulisan Prof.Tabrani menyebutkan bahwa saat itu Belanda gagal dengan keadaan itu sehingga mereka membuka pendidikan guru untuk kalangan pribumi yakni Bumiputera Normal School, yang salah satunya seperti Pak Suman HS sebagai lulusannya. Tamatan Normal School inipun memiliki gaji dua kali lipat lebih tinggi dari gaji profesi lain. Artinya, profesi guru adalah profesi yang benar-benar bermartabat dan berintelektual tinggi.

Lalu bagaimanakah dengan profesi guru di negara-negara lainnya ? Ternyata mereka lebih memuliakan guru dan memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap profesi mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Di Malaysia saja Guru menjadi panutan dan kesejahteraan mereka sangat diperhatikan negara dan masyarakat. Kalau boleh bombastis lagi, ketika penulis berdiskusi dengan salah satu grup WA negara tetangga, Malaysia, warga mereka sangat menghormati dan menghargai guru. Menurut sumber-sumber dari Pemerintahan Malaysia pun, Kerajaan sangat memberikan apresiasi pada kalangan 'Cikgu' yang ada.

Lalu bagaimana dengan Thailand yang negaranya tak pernah dijajah sekalipun oleh bangsa lain ? Ternyata negara Gajah Putih ini juga berlaku konsensus bahwa gaji guru harus lebih tinggi dari gaji pegawai rata-rata. Artinya, negara-negara tersebut sangat menghargai profesi guru dan berani mengangkat derajat guru pada tingkat yang yang lebih tinggi. 

Jepang juga pernah menorehkan sejarah bahwa guru adalah sebuah aset bangsa mereka. Pasca kalah perang dunia kedua, Jepang berharap pada guru-guru yang tersisa sebagai salah satu untuk memajukan kembali negara mereka ke peradaban dunia modern. Sehingga saat ini kita bisa melihat, Jepang yang kaya raya dan penuh dengan teknologi canggih berkat perjuangan para guru mereka yang betul-betul diperhatikan dan diayomi oleh negara.

Lalu bagaimana dengan negeri ini yang katanya peduli dengan nasib guru ? Okelah kalau berbicara guru PNS atau guru Employment di sekolah swasta masih bisa mendongakkan kepala. Tapi kalau berbicara guru kebanyakan seperti honor komite, guru bantu Propinsi maupun Kabupaten, kita akan tertunduk malu. Sudahkah kita menghargai jasa dan pengabdian mereka ? Sudahkah negara melindungi mereka ? Ternyata tidak ! Saya, anda dan kita semua bisa berurai air mata jika dipaparkan kondisi guru-guru kita tersebut. 

Batin kita wajib menangis ketika kita melihat peras keringat seorang guru yang belum mendapat imbalan sesuai fungsinya. Usahlah empat kali lipat dari profesi lain, setara saja masih lumayan. Dimana letak tanggung jawab negara terhadap mereka ? Honor mereka saja selalu tersendat, bahkan sampai 4 bulan hingga lebih tak kunjung juga dibayarkan. Jasa mereka takkan tergantikan dalam membangun bangsa melalui pendidikan, tapi kenapa tidak ada perhatian negara untuk kehidupan mereka ?

Sekali lagi, kita wajib menangis dan bercucuran air mata jika nasib guru-guru kita harus tercampakkan dalam peradaban dunia. Dimana seluruh elit politik berbicara kesejahteraan, ilmu pengetahuan dan sebagainya, namun pernahkah terlintas di benak mereka untuk memperjuangkan nasib guru bantu, guru honor dan guru yayasan yang ada agar bisa sejajar dengan profesi lain ?

Jangan berharap lebih kepada kemajuan bangsa, jika nasib para pendidik generasi muda kita nasibnya pun masih tak jelas. Bagi guru yang tak pintar-pintar hidup, pasti bakalan hancur lebur, karena gaji mereka tak keluar selama beberapa bulan. Siapa yang sanggup berpuasa untuk waktu yang lebih lama ? Lalu bagaimana kita bisa berharap untuk perbaikan bangsa namun nasib guru kita masih terlunta-lunta ?

Diantara mereka sudah berjuang bertahun-tahun lamanya, namun belum ada itikad Pemerintah untuk memberikan 'angin segar' bagi masa depan mereka. Bahkan, kerapkali penulis melihat Pemerintah cenderung selalu menakuti-nakuti korps guru (honor-red) dengan alasan rasionalisasi dan negara tak memiliki anggaran. Apakah itu penghargaan negara pada mereka yang telah bertungkus lumus berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ? Tentu tidak. Kita menginginkan perbaikan bagi negeri ini, sudah saatnya seluruh elit politik memikirkan nasib negeri ini melalui peningkatan kualitas guru yang berbarengan dengan peningkatan kesejahteraan mereka.

'Education is the best capital', Pendidikan adalah modal yang terbaik, semua orang tahu, tapi menghargai orang yang berada dalam bidang tersebut boleh dibilang tidak ada. Guru harus diperjuangkan dan dimuliakan. Jika hal ini diabaikan, tunggulah kehancuran negeri ini, karena di tangan merekalah masa depan negeri ini dipertaruhkan. Jika saya selaku penulis menjadi penentu kebijakan, tentulah guru yang pertama kali mesti diperjuangkan. Guru berasal dari rakyat, jika gurunya baik dan sejahtera, pasti rakyat dan negara sejahtera.

Kita tidak butuh penghargaan dari manusia, memuliakan guru bagian dari nilai kemanusiaan itu sendiri. Semoga negara hadir untuk memberikan penghargaan pada semua guru-guru yang ada. "Dari Bagan Sampai Tembilahan, singgah sebentar di Pekanbaru. Kalau kita ingin kemajuan, mari perjuangkan nasib guru'.

Oleh : Beni Yusandra, SMn (Pimpinan Redaksi Putera Riau, Putera Pejuang Kemerdekaan RI Propinsi Riau)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »