Selain Taja Even Nuansa Melayu, Wajib Gunakan Bahasa Melayu Kamis Dan Jumat Di Siak

Posted by On Wednesday, April 19, 2017



Siak, (puterariau.com)

Zu’udiya Aroyani tak canggung mendongeng di hadapan Bupati Syamsuar, Selasa lalu (18/4), di Taman Baca Afrita Dara. Bupati dua periode itu tampak sesekali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan bertepuk tangan ketika mendengarkan kisah Tuanku Tambusai yang disuguhkan siswi SD itu.

Gadis cilik, cucu dari pendiri pondok pesantren di Dayun itu merupakan salah seorang peserta dalam lomba berpidato berbahasa Melayu dan mendongeng yang ditaja oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Siak. Meski tampil dengan baik, Diya mengaku sedikit grogi ketika tampil di hadapan Bupati Siak.

Meski baru belajar, Diya mampu tampil dengan apik dan luwes mendongeng kisah seorang pejuang tangguh dari tanah Rokan itu. Hal tersebut membuat hadirin tamu undangan berdecak kagum oleh kemampuan yang dimilikinya.

Sebelumnya, Plt Kadis Perpustakaan dan Aset Wan Fazri Auli mengatakan bahwa melalui kegiatan ini diharapkan dapat mengasah bakat dan kemampuan peserta dan dapat menumbuhkembangkan semangat dan motivasi budaya membaca, khususnya mengenai cerita rakyat.

Selain itu, kata Wan Fazri, kegiatan ini juga untuk membudayakan bahasa Melayu agar tidak terlupakan dan bentuk tanggung jawab kita sebagai orang Melayu. Diharapkan bahasa Melayu akan kembali muncul di tengah-tengah masyarakat.

Wan Fazri menjelaskan bahwa melalui ajang ini pihaknya menjaring beberapa peserta yang berbakat untuk diadu kembali di tingkat Provinsi maupun Nasional. Dalam hal ini, pihak penyelenggara menerjunkan tim juri dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan Dinas Pariwisata serta Dinas Perpustakaan dan Aset Kabupaten Siak.

Dikatakan, sebanyak 84 orang peserta mewakili Kecamatan-Kecamatan se-Kabupaten Siak, dan berlangsung selama dua hari. Adapun kriteria penilaian lomba pidato dan mendongeng tingkat SD hingga SMA dan umum, antara lain pidato kesesuaian isi dengan tema, sistematika penulisan, bahasa yang baik dan benar, pidato bahasa Melayu yang baik, improvisasi, ketepatan waktu dan lain-lain.

"Dongeng-dongeng dan pidato yang diceritakan atau disampaikan tentu harus mengandung pesan moral dan edukasi sehingga bisa membangun karakter disiplin anak sejak dini," ujarnya.

Bupati Siak Syamsuar saat membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa untuk mengembangkan budaya baca di kalangan generasi muda perlu strategi atau upaya tepat serta berkesinambungan. Salah satunya melalui lomba-lomba yang dilakukan seperti ini.

Disampaikan bahwa kegiatan lomba minat baca, mendongeng serta berpidato bahasa Melayu sangat bagus. Artinya anak-anak sejak kecil sudah diperkenalkan budaya daerah kita khususnya, dan budaya nusantara pada umumnya.

Pada kesempatan itu Bupati Siak mengajak para tamu undangan dan peserta yang hadir untuk melestarikan budaya Melayu hingga ke anak cucu dan tak hilang di bumi Melayu ini.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Siak sangat peduli terhadap pelestarian budaya, salah satunya dengan mengeluarkan surat edaran untuk PNS dan honorer, yakni wajib berbahasa Melayu pada hari Kamis dan Jum’at.

Ini merupakan sebuah upaya untuk melestarikan nilai budaya khazanah Melayu agar tak tergerus perkembangan zaman. Salah satunya agar Melayu tetap kokoh sebagaimana motto 'Takkan Melayu Hilang Di Bumi, Takkan Hilang Indonesia.'  (Hangtuah/beni/pr)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »