Antara Pembalakan Liar Di Bukit Batu Dan Kesusahan PETANI, Kemana Elit Politik Selama Ini ?

Posted by On Friday, April 21, 2017

(Jajaran Polsek Bukit Batu bersama PETANI Desa Bukit Kerikil saat duduk bersama membahas pembalakan liar)

Bukit Batu, (puterariau.com)

Lagu Iyeth Bustami tentang 'Laksmana Raja' di laut bersemayam di Bukit Batu hanya tinggal lagu pengantar tidur di daerah itu. Pasalnya kondisi terkini daerah Bukit Batu cukup memiriskan hati. Untung saja misteri pencurian kayu di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil selama ini terkuak sejak kedatangan Kapolda Riau Irjen Pol Zulkarnain Adinegara beberapa waktu lalu. Namun, jika tidak selalu dipantau dan di-follow-up, pencuri-pencuri kayu pelaku pembalakan liar itu akan muncul kembali bagaikan hantu. Maklum, seiring kondisi ekonomi masyarakat yang sedang morat marit, keinginan untuk mencari uang cepat itu sangat mudah dipilih warga.
Untuk mencegah terjadinya pembalakan liar di daerah ini, jajaran Polsek Bukit Batu langsung turun tangan. Tak segan-segan, mereka mau berbaur dengan masyarakat terkait mencari informasi yang A1. Gebrakan semacam ini sangat jarang terjadi sebelumnya di daerah Desa Bukit Kerikil ini.

Dalam hal ini, PETANI (Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia) mengucapkan terima kasihnya pada Kapolsek Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan jajarannya yang mau mendengar langsung dan berdiskusi saling memberi masukan untuk mencari jalan keluar pencegahan pembalakan liar asal Cagar Biosfer Giam Siak Kecil.
Selama ini, aparat yang ada hanya menerima laporan ABS (Asal Bapak Senang) terkait permasalahan yang terjadi di lapangan. "Kami sangat apresiasi dan memberi acungan jempol buat Kapolsek dan jajarannya yang langsung turun ke lapangan," kata Ketua Laboratorium Pangan Agribisnis Kerakyatan PETANI Propinsi Riau, Sahat Mangapul Hutabarat kepada PR.

Namun demikian, itikad baik dari Kapolsek Bukit Batu tersebut tidak akan sukses jika tidak didukung oleh semua pihak dalam menumpas pembalakan liar. Kenapa begitu ? Ya, kalau tidak rutin dan hangat-hangat tahi ayam, pastilah oknum-oknum pembalak liar itu kembali bekerja. Ini rumus kejahatan, selagi ada kesempatan, pasti dilakukan, apakah lagi masalah pembalakan liar yang sudah ada angka-angkanya. Jangan jangan, jangan jangan...ah sudahlah, pikir hati kita mengingat kasus pembalakan liar selama ini.

PETANI pun berfikir sama, pembalakan liar tidak akan bisa dicegah dan diatasi hanya dengan kerja sama Polri dan rakyat PETANI saja. Hal itu dapat dipastikan tidak bisa jika Gubernur/Bupati, TNI, Polri, BKSDS/KLHK tidak duduk bersama mencari jalan keluarnya. "Apalagi menjadi penonton yang hanya bisa menyalahkan orang lain," sebut Sahat Mangapul.

Ia cukup menyayangkan elit politik yang cuma duduk bengong meskipun berbicara atas nama rakyat dalam penyelesaian kasus ini tanpa melibatkan rakyat. Misalnya saja masyarakat PETANI di Kampung Sidodadi dan sekitar daerah Gotex 010 (daerah bongkar muat kayu pembalakan liar). Selain penegakan hukum terhadap pembalak liar, butuh sinergitas perbaikan kesenjangan dan ketimpangan ekonomi yang selama ini masyarakat setempat tidak pernah mendapat perhatian apapun.

Percuma juga Amril Mukminin (Bupati Bengkalis) berkoar-koar seputar kesejahteraan rakyat Bengkalis, toh ia saja tak mengerti keadaan lapangan dan permasalahan yang terjadi di tengah rakyatnya. Boleh dikatakan, nasib masyarakat kampung ini bagaikan masyarakat pinggiran kawasan terisolir yang luput dari perhatian elit politik tersebut. 

Padahal Presiden Jokowi pernah berucap bahwa pembangunan infrstruktur di seluruh pelosok tanah air khususnya di desa-desa harus diselesaikan untuk memutus rantai kemiskinan, memutus rantai pengangguran, memutus rantai ketimpangan dan kesenjangan sosial. Ternyata faktanya belum pernah dilihat oleh masyarakat Desa Bukit Kerikil. "Barangkali anak buahnya di bawah tidak memperdulikan instruksi Presiden tersebut," ucap Sahat lagi.
Ia berharap agar seluruh elit politik negeri ini memikirkan nasib rakyat kedepan. Pengelolaan hutan kemasyarakatan atau program tanah kehutanan selama ini dimanfaatkan perusahaan asing, kenapa untuk masyarakat setempat belum ada ? Ini yang menjadi perhatian PETANI terkait perlunya pemberdayaan masyarakat lokal. 

"Apakah kami masyarakat PETANI di Kampung Sidodadi Desa Bukit Kerikil bisa mendapatkannya atau hanya janji kosong belaka ? Kami tunggu pembuktiannya," pungkas Sahat menyudahi. (Beni/Ht/Fdl/PR)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »