Adhi Bagus Mahendra, Komisi IV DPR RI : Harga Gula Tinggi, Petani Tebu Miskin, Salahnya Dimana ?

Posted by On Friday, April 14, 2017



Jakarta, (puterariau.com)

Petani tebu yang menghasilkan bahan baku gula, nasibnya dibiarkan tak tersentuh teknologi sehingga mempengaruhi minat untuk menjadi petani tebu. Apalagi teknologi yang diterapkan masih berjalan di tempat sama dengan di era penjajahan.

Hal ini dikatakan Adhi Bagus Mahendraputra anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar yang berasal dari daerah pemilihan Propinsi Bali mengatakan di Jakarta 11/4/2017, sebelum rapat dengar pendapat dengan produsen gula dengan Komisi IV yang membidangi pertanian dan perkebunan.

Harga gula yang tinggi di dalam negeri sekarang, katanya, akibat inefisiensi yang tak pernah dinikmati keuntungannya oleh petani. Imbasnya jumlah lahan dan produksi tebu di lahan produksi berpengairan pun turun.

Bandingkan  pendapatan petani gula Rp.10 Juta per tahun per hektar. Sementara dengan tanam padi hasilnya 7 ton per hektar dengan masa tanam 3 kali setahun dengan harga gabah kering sekitar Rp 9.000.

Ironinya dengan harga gula dalam negeri yang tinggi sekitar Rp 9.000/kg, sementara gula impor di pasar internasional harganya hanya Rp.7.500. "Sudah petani rugi, industri juga rugi, ngeri nggak," katanya.

Ia tidak sependapat dengan pola bantuan lewat  subsidi karena prakteknya banyak yang salah sasaran. Selama menanam padi lebih menguntungkan, bisa panen tiga kali dalam setahun, tidak akan ada petani yang akan menanam tebu, paparnya.

Di tengah konsumsi gula yang telah dipasoki dari  impor. Langkah terobosan dengan tanam tebu di lahan kering atau lahan tandus  sudah tepat oleh pelaku usaha untuk menekan biaya sewa tanah. Yang penting asal  pendapatan petani juga dipikir kan oleh pelaku industri, supaya petani kita lebih sejahtera.

Dari pengalaman Korea Selatan dalam membuat terobosan tata kelola pangan dan pertanian. Pelakunya hanya cuma tiga orang per hektar, dilengkapi  dengan bantuan teknologi agar efisien, sehingga petaninya bisa lebih sejahtera.

"Dengan teknik green house kita bisa berproduksi  dengan tak tergantung pada musim. Kita kan sudah diberi lahan yang luas sebenarnya kita bisa berproduksi tebu dan gula pada setiap musimnya," ujar Adhi memaparkan.

"Namun kalau kita masih menggunakan teknologi konvensional. Petani tebu dapat apa sekarang, jika  kita masih tidak mau berubah. Modernisasi petani tebu bisa dimulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih, pupuk, teknologi  dan waktu masa panen yang tepat," pungkasnya. (Erwin Kurai/Beni)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »