50 Persen Warga Inhil Puas Akan Kinerja Wardan

Posted by On Saturday, April 22, 2017

(Saat Wartawan PR Inhil Utara, Ridho bersama Bupati Wardan di sebuah acara)

Sungai Guntung, (puterariau.com)

Dari penjajakan lapangan selama ini, kepuasan masyarakat Inhil terhadap kinerja Bupati Wardan berkisar sekitar 50 persen. Kenapa hanya separuh ? Tentu publik Inhil akan bertanya-tanya. Yah, bukankah Pak Bupati Inhil itu sudah berhasil memperbaiki taraf hidup petani dengan membaiknya harga kelapa ? Bukankah Pak Bupati berhasil melobi dana untuk pembangunan daerah ? Bukankah Pak Bupati dapat penghargaan menjadi Bupati kepala, eh kelapa ? sahut warga yang berprofesi petani di Guntung baru-baru ini. Tentu redaksi memiliki alasan tersendiri.

Ada juga warga yang menyebutkan keberhasilan pembangunan desa melalui program DMIJ yang diproduk oleh Bupati Wardan. Bagus memang programnya, tapi apakah jika bagus programnya langsung di-cap bagus 100 persen ? Pasti ada indikator yang harus ditempuh terutama bagaimana urgensinya bagi kehidupan masyarakat. "Kalau hanya dinikmati oleh kelompok-kelompok tertentu, itu kurang bagus juga, karena masyarakat kebanyakan tak mengerti itu," ulas warga yang menjadi responden.

Sejauh ini, ada juga kritikan yang dialamatkan pada program Bupati Wardan itu. Misalnya saja soal transparansi yang dibilang masih jauh dari harapan. Apalagi mengenai motto 'disclosure', jelas hanya orang tertentu yang paham akan hal itu. "Konsep manajemen masjid juga kadak tahu ceritanya," celetuk warga awam seputar program DMIJ. Memang secara umum, program ini bagus pada dasarnya, namun jika perangkat tidak disertai 'ilmu kejujuran' dan ke-amanahan, tentu menjadi 'celengan' bagi mereka untuk mendapatkan materi semata.

Jadi, tingkat kepuasan 50 persen itu bisa mengalami fluktuasi tergantung perkembangan isu, momen tertentu, seremonial pemerintah ataupun gejolak politik kedepan. Apalagi Bupati Wardan dan jajaran yang sibuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial seiring jadwal protokoler, tentunya bisa 'kelupaan' memikirkan intisari pemerintahan yang bermuara pada rakyat.

Kalau persoalan-persoalan penting terkait program kerja, pelayanan dan perlindungan masyarakat diberikan penuh pada pegawai yang ada, alamat kapal bisa karam. Karena pegawai negeri sipil ini tersandera oleh jabatan, sehingga tidak bisa berimprovisasi dalam pengelolaan program Bupati Wardan secara utuh. Apa yang diperintahkan, itu yang dilaksanakan, walau banyak yang masih melenceng, ibarat menembak burung, seratus peluru ditembakkan belum tentu kena seekorpun, begitulah agaknya.
(Saat disalami warga saat kunjungan ke daerah, Bupati Wardan mendapat sambutan hangat)
Oleh karena itu, Bupati Wardan harus bisa bekerja sama dengan pihak legislatif secara keseluruhan serta pihak-pihak lain yang lebih profesional. Untuk meningkatkan kepuasan publik, Bupati harus mengedepankan etos kerja yang berbasis dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Satu lagi terpenting, Bupati harus berhati-hati juga terhadap orang di sekelilingnya yang selalu menyanjung-nyanjung (umbuk-umbuk) tanpa ada prestasi. "Bahaya lho, bisa blunder nanti Bupati," analisis dari salah seorang kawanan yang suka cakap politik tapi tidak masuk politik praktis.

Tentu publik Inhil bertanya-tanya kenapa kita tidak mengambil sampel pendapat dari pakar politik atau orang-orang terkenal lainnya di Tembilahan atau di Ibukota Kecamatan ? Menurut hemat tim lapangan kami, itu kurang tepat dengan alasan cenderung memihak. Ibarat kata hanya ada dua opsi ditemui, kalau yang 'like' Bupati Wardan pasti memberikan jawaban yang sempurna buat Bupati, tapi kalau 'dislike', tentu memberikan kesan negatif. Untuk itu, kita berani random sampelnya agar lebih bebas dari intervensi terlepas dari pihak suka atau tidak suka di Inhil.

Harus diakui, Bupati Wardan saat ini makin 'bersinar' seiring elektabilitas beliau yang makin meningkat. Makanya banyak kandidat Inhil satu 'down' untuk bergerak. Karena hasil survei lapangan saja, nama HM Wardan masih diunggulkan dari nama-nama lainnya. Tapi itu bukan jaminan bahwa Wardan seenaknya bebas melenggang tanpa perlawanan, sebab siapapun dia, masih sangat memiliki kans besar di negeri seribu parit ini. Ibarat pohon kelapa yang tinggi nan kokoh, belum tentu tak bisa tumbang diterpa angin.

Berbicara kesejahteraan rakyat, tak terlepas dari yang namanya kebijakan pemimpin. Bupati Wardan mendapat applaus dari kalangan petani dalam hal perbaikan harga yang boleh dikatakan 'cukup'. Namun, beda kepala beda pula pendapat karena masih ada yang ingin harga saat ini lebih baik lagi. Kalau ditafsirkan kira-kira sekali panen kelapa itu bisa buat Umroh satu kali di Arminareka agaknya ya...

Selain itu ada juga yang sedang 'mendemam' di bulan-bulan rawan ekonomi saat ini. Merekalah para honorer yang ada di Inhil. Guru bantu saja misalnya yang gajinya belum dibayarkan walau sebelumnya ada yang berkoar tinggal bayar, aman deh. Kalau bertanya secara jujur dijawab dengan hati nurani, pasti guru-guru menjawab kurang puas dengan kinerja Bupati Wardan. Mau tau alasannya ? Masa, permasalahan keterlambatan gaji ini dari tahun ke tahun tidak bisa diatasi juga, walau banyak ahli yang sekolahnya sampai Magister di Inhil, ya ga ? Jangan-jangan kuliah S2 PNS itu bukan untuk mencari solusi, melainkan hanya untuk penambah gaji ?!!@#

Kembali ke angka 50 persen tadi. Tentu ada pihak yang kemungkinan marah jika redaksi memberikan poin segitu. Tapi itu jujur lho, bahkan kalau responden redaksi Putera Riau makin bertambah nantinya, bisa jadi kepuasan bisa sampai 101 persen. Artinya, kita tentu akan membuat berita yang judulnya 'Seluruh warga Inhil puas atas kerja Bupati Wardan', tunggu saja.

Mengenai pembangunan infrastruktur di Inhil, seluruh media rata-rata menulis bahwa sudah ada perkembangan yang cukup baik sejak kepemimpinan Bupati Wardan. Tapi kalau bagi Putera Riau sendiri, ada yang harus dikoreksi perangkat daerah terkait kualitas pembangunannya. Bahkan publik pun setuju atas kerja Bupati Wardan baru-baru ini yang terjun ke lokasi untuk melihat hasil pekerjaan kontraktornya. Kalau boleh berkata, Bupati Inhil-lah yang paling aktif mengecek kondisi lapangan dalam dua minggu terakhir. Salut !

Untuk Kecamatan Kateman saja, misalnya di Sungai Guntung, Bupati Wardan mendapat apresiasi dari warga yang ada terkait gebrakan Bupati membangun daerah yang selama ini tertinggal. Hanya saja, kalangan anak muda masih berharap agar Bupati Wardan mau menyerap aspirasi mereka melalui pembangunan sarana rekreasi. "Anak-anak muda tak ada tempat rekreasi, asyik di kebun atau di kedap kopi saja, maunya ada ruang rekreasi untuk mengisi waktu luang agar terhindar dari pengaruh negatif seperti narkoba dan lain sebagainya," ujar Atan warga Jalan Baituddin Sungai Guntung ini.

Selaku anak muda yang masih berjiwa muda, Atan berharap agar Bupati Wardan juga memikirkan prospek ekonomi kedepannya jika Sungai Guntung sudah ada taman rekreasi bagi warga sekitar. "Bisa-bisa investor bisa tertarik tuh, melihat potensi yang tersimpan di daerah kami," sebutnya. Harapan kalangan muda ini boleh jadi suatu 'sinyal' bagi Bupati Wardan untuk menangkapnya. Bukan berbicara politik, tapi bagaimana dampaknya bagi perkembangan Kota Sungai Guntung kedepannya. Ada baiknya Bupati Wardan membentangkan 'karpet merah' pada investor yang ingin membangun daerah asalkan bertujuan untuk kemashlahatan masyarakat dan daerah.

Tentunya sinyal keinginan warga terkait harapannya pada Bupati belum bisa ditangkap sebagai nilai kepuasan. Sebab, masih ada fluktuasi tingkat kepuasan jika ada kandidat lain yang mampu menjanjikan hal serupa. Setidaknya, dari sisi pembangunan infrastruktur semacam ini, tingkat kepercayaan pada Bupati Wardan mulai membaik.

Lalu bagaimana dengan warga di Pulau Kijang Kecamatan Reteh ? Tentu beragam versi pendapat yang digulirkan. Disini masih ada fifty-fifty antara 'suka dan tak suka' dengan Bupati. Seringkali ditemui ada pihak yang menyukai Bupati Wardan di depan, di belakang belum tentu. Alasannya, bisa dilihat dari perkembangan daerah Kecamatan Reteh yang kian kalah dari sekutunya, Kecamatan Keritang atau sekelilingnya. Kalau boleh berbicara sedikit, sarana infrastruktur daerah ini cukup rusak parah. Dibangun hulu, hilir pula yang rusak, dibangun depan, belakang pula bermasalah, demikian seterusnya dan seterusnya. Sehingga hal itu berdampak pada tingkat ekonomi melalui sisi perdagangan yang cukup menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

Seandainya pengerjaan proyek jalan dari Kotabaru ke Pulau Kijang itu selesai dengan sempurna, bisa diprediksi di luar kepala saja bahwa tingkat kepuasan warga daerah ini mencakup 80 persen. Untuk itu, Bupati Wardan harus berani mengerahkan jajarannya untuk 'fight' di lapangan agar pembangunan jalan tersebut berjalan sesuai dengan target dan rencana. (Ridho/bys/adv/pr)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »