Ada Pameran Keris Mistis Untuk Lindungi Kasus Korupsi Di Parlemen

Posted by On Saturday, March 18, 2017

Jakarta, (puterariau.com) I ---Malam Jumat tanggal 16 Maret lalu, di komplek parlemen Senayan, Jakarta, berlangsung tiga perhelatan rasional mistis tanpa harum dupa kemenyan kembang tujuh rupa.

Wakil rakyat di DPR sedang semangat-semangatnya menepis bancakan uang korupsi E-KTP sebesar Rp.2,3 triliun. MPR RI membedah buku musisi Harry Roesli 1951-2004 dengan tema Republik Pungky dengan aura berwarna hitam berlambang tengkorak. Sebelumnya pimpinan DPR membuka pameran keris yang dipatok dengan harga puluhan juta rupiah.

Dalam diskusi Kamisan di ruang Press Room DPR RI, Fahri Hamzah wakil Ketua DPR RI minta supaya wewenang DPR diperkuat agar korupsi E-KTP bisa dibuka lebih transparan dengan hak angket. Sepengetahuan dia, DPR baru dua kali menggunakan hak angket yakni dalam kasus Bank Century dan PT Pelindo.

"Dengan menggunakan hak angket semua akan lebih terbuka. Apa KPK bersih, penyidik yang dipecat dari Mebes Polri masih belum mundur di KPK. Kasus pimpinan KPK di SP3 tidak dilanjutkan sampai ke pengadilan," katanya.

Yenti Ganarsih pakar korupsi langsung merespon, "DPR kurang kuat apa lagi.  Apabila angket Bank Century hanya berhenti pada Deputy Bank Indonesia Budi Mulia. Kita dorong KPK agar bikin dakwaan baru buat pelaku lainnya. Begitu juga halnya terkait dengan E-KTP. KPK supaya cepat cepat membuat dakwaan baru untuk pelaku lain," ujarnya.

Jika lantas DPR mau diperkuat, apanya yang akan diperkuat. "Jamu", sindir Fahri setengah tersenyum, dan menghentikan pernyataannyanya tanpa menjelaskan maknanya.

Dalam agenda terpisah Kayala anak musisi Harry Roesli almarhum mengatakan bahwa Bapak meninggalkan buku sebanyak 300 halaman dengan sampul hitam warna menuntut keadilan dan lambang Kepala Tengkorak 1951-2004.

Isi buku berisikan kata pengantar dari seniman Putu Wijaya. Tapi isi bukunya tanpa naskah, semua masih berupa halaman per halaman yang masih kosong putih bersih. Yang bisa dibaca hanya kertas putih bersih.

Harry Roesli pada tahun 1973 menulis komposisi Malaria terkait dengan peristiwa Malari saat rezim Orba baru menguat. Harry  lalu diusir oleh ayahnya karena tidak mau kuliah di Fakultas Kedokteran sampai menjadi orang jalanan di Gedung Merdeka sebelum kembali pulang ke rumahnya di jalan WR Supratman, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat .

Harry Roesli paling sering ditahan di penjara di Jalan Jawa. Saat diperiksa oleh penyidik dia selalu mengatakan ayahnya tentara pangkat Jenderal. Dengan jawaban yang lugas itu, Harry sering lolos dari tahanan. Beda dengan aktifis lain yang hilang setelah dibui oleh militer.

Pameran keris asal Bali dan NTB berlangsung untuk kedua kalinya  di DPR RI. "Saya sempat bertanya kepada pemilik keris. Keris keris yang dipajang dan dijual ada Khodamnya, ada mahluk halusnya", sitir Hartoyo pemerhati keris asal Jawa Tengah di tempat pameran.

Pameran keris berlapis emas beraura mistis mulai terasa sejak sebelum masuk ke arena pameran yang digelar kali ini bersamaan dengan momen setelah dibacakannya dakwaan korupsi E-KTP, yang alirannya diterima oleh beberapa nama anggota DPR yang nilainya cukup besar sebesar Rp.2,3 Triliun.

Walau negara telah melarang ajaran materialisme, pejabat kita malah paling doyan menumpuk materi. Inilah yang juga menimpa anggota DPR dan pejabat pemerintah berkolusi dengan pengusaha.

Percaya atau tidak  penunggu mahluk halus makin terasa kalau sudah memasuki waktu malam hari. Salah satu tanda tandanya adalah eskalator pernah tiba-tiba bisa anjlok tanpa ada korban.

Khodam bisa berubah wujud harimau dan ular jadi-jadian. Kalau bisa merawat bisa jadi pelindung diri, menundukkan orang lain agar menuruti permintaan kita. Sebaliknya jika tidak sejalan dengan pemiliknya bisa menyerang empunya sendiri untuk jadi korban.

Paling tidak, kata Hartoyo, ia diberi tahu ada 60 keris yang berisi Khodam. Yang saat dijual masih dikunci oleh pemiliknya. Mungkin pemeran Keris di DPR ini maksudnya untuk memberitahukan mana keris yang ada isinya dan yang tidak ada Khodamnya. Siapa korban berikutnya ? (Erwin Kurai)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »