LSM Lingkungan Diajak Kelola 218 Hektare Lahan Untuk Perhutanan Sosial

Posted by On Sunday, February 26, 2017

PuteraRiau.com, Kuansing I --- Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengalokasikan 8.000 hektare untuk dikembangkan sebagai perhutanan sosial di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dan sekitarnya. 

"Kita sudah memetakan areal-areal yang akan dikembangkan menjadi perhutanan sosial. Untuk sementara yang dicoba 218 hektare dari 8.000 hektare di satu lokasi," kata Kepala BBKSDA Riau, Mahfuds saat persiapan revitalisasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang diwacanakan sejak awal tahun 2017 ini. 

Menurut dia, salah satu konsep yang didorong untuk merevitalisasi TNTN adalah menggulirkan perhutanan sosial. Sejauh ini, kata dia, BBKSDA Riau telah memetakan areal yang akan dikembangkan menjadi perhutanan sosial, tepatnya di Kecamatan Logas, Kuantan Singingi. 

Dari pemetaan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone, kata dia, disiapkan lahan 218 hektare dari 8.000 hektare untuk dikembangkan menjadi perhutanan sosial. 

"Bibit-bibitnya sudah kita siapkan. Akan kita tanami tanaman hortikultura yang sifatnya cepat menghasilkan di sana," ujarnya. 

Dia menjelaskan dengan adanya perhutanan sosial, maka diharapkan masyarakat di sekitar TNTN akan semakin kuat tingkat ekonominya. Sehingga potensi perambahan hutan akan ditekan. 

Selain di Logas, dia mengatakan konsep serupa akan dilakukan di sejumlah titik lainnya. Saat ini dia mengatakan BBKSDA Riau masih terus memetakan guna menyelesaikan persoalan di TNTN. 

Selain BBKSDA Riau, Mahfud turut menggandeng sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pegiat lingkungan seperti Walhi, Jikalahari dan lainnya. 

"Kita sudah bagi ruang dengan kawan-kawan NGO. Kita bekerjasama untuk selesaikan persoalan dalam TNTN," jelasnya.

Supartono, Kepala Balai TNTN menambahkan kawasan hutan yang tersisa saat ini hanya sekitar 25.000-30.000 hektare dari total luas awal 80.000 hetare.

TNTN menjadi salah satu dari sejumlah kawasan konservasi yang marak terjadi pembalakan, perambahan lahan. Akibatnya, setiap tahun kawasan hutan yang kaya akan flora dan fauna di Riau menjadi ajang berkumpulnya titik-titip api. (pr/antarariau)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »