'Hati-Hati Dalam Memilih Pemimpin'

Posted by On Thursday, January 12, 2017

Dalam kitab 'Tanbiihul Ghafiliina', Maimun bin Mahran berkata : "Berteman dekat dengan Sultan (Pemimpin) itu ada dua resiko/bahaya. Pertama, kalau engkau taat kepadanya, engkau membahayakan agama. Kedua, kalau engkau mendurhakainya atau tidak taat kepadanya, engkau membahayakan dirimu sendiri. Maka, menurutnya, yang selamat bagi diri adalah supaya engkau tidak melihat pemimpin, dan pemimpin itupun tidak melihatmu.

Nah, dalam hal ini bagaimana dihubungkan makna dari perkataan Maimun bin Mahran itu dengan kondisi kehidupan kita sekarang ? Mungkin secara kasat mata, tidak ada yang menampik bahwa masyarakat selalu berlomba untuk mendekati pemimpinnya. Persepsi yang muncul barangkali adalah berhubungan baik dengan sang pemimpin, pastilah segala urusan akan mudah. Ini merupakan salah satu hal yang terisi dalam benak masyarakat secara garis besar. Walaupun masih banyak yang antipati dengan politik, tapi bisa kita bayangkan berapa banyak masyarakat yang turut serta menjadi tim sukses ataupun bahasa kasarnya, penjilat sang pemimpin.

Namun bagaimana kalau yang kita taati itu adalah sosok pemimpin yang zalim ? Tentunya, tidak ada dalil apapun yang melarang kita untuk tidak taat pada pemimpin tersebut. Bagaimana kita bisa melihat sosok pemimpin zalim sementara kalau kita perhatikan pemimpin negeri yang ada di nusantara ini pastilah mereka yang mengaku beragama. Tidak ada satupun yang luput dari syarat agamis tersebut. Jadi kezaliman seorang pemimpin itu sangat sukar untuk dideteksi kecuali dengan indikator tertentu secara syariat. 

Misalnya, pemimpin yang diperoleh dari sistim 'money politik' pasti akan menghasilkan pemimpin penipu rakyat. Walau pemimpin itu berkalung sorban, haji sembilan kali, namun kalau masih melakukan hal-hal yang tidak disyariatkan oleh islam, pastilah pemimpin itu adalah sosok pemimpin zalim. Pemimpin yang pandai berjanji ini dan itu, namun nol implementasi bagi masyarakat. Rakyat yang dipimpinnya hanya sebuah komoditas politik agar bisa bertahta. Kebijakannya selalu menyeleweng, bahkan hanya menguntungkan golongan tertentu, sebab sangat kuatnya 'vested interest' (kepentingan golongan dan kroninya).

Sosok pemimpin seperti itu akan memilih pembantu-pembantunya yang sebahat. Siapa bisa menjilat pasti mendapat tempat, siapa yang menggonggong akan ditolong, namun kehidupan bukanlah seperti kehidupan hewan peliharaan (anjing) yang harus menggonggong dan menjilat. Nah, dihubungkan dengan kondisi saat ini, umpamanya adalah seorang gubernur/bupati/walikota menempatkan kepala dinas dan SKPD tidak berdasarkan kemampuan mereka. Keadilan dirasa sangat jauh, sehingga alasan ini itu muncul dari bawahan. Rumusnya masih rumus lama, lihai menjilat, berpura-pura dan sebagainya pasti mendapat posisi enak. Mungkin ini sebuah kezaliman yang dibuat pemimpin, yakni penzaliman karir.

Kepala otak pembantu-pembantu pemimpin itu hanya uang, uang dan uang. Sebab, bukan rahasia umum lagi mereka bermain politik diatas kepentingan rakyat. Mereka tidak pernah tersentuh akan penderitaan rakyat. Kalaupun blusukan, itu hanya berbentuk pencitraan agar disebut sebagai sosok yang peduli terhadap sesama.

Masyarakat harus berhati-hati terhadap gaya kepemimpinan lemah gemulai dan bertopengkan agamis namun kebijakannya lebih kejam dari Fir'aun. Jika rakyat angkat bicara, kekuatan politik yang bermain. Preman pun bisa dibayar untuk mengintimidasi rakyat yang kritis dan idealis. Itu salah satu watak pemimpin otoriter yang bertamengkan demokrasi saat ini.

Bahkan, pemimpin-pemimpin, pejabat-pejabat itu bukanlah orang yang tidak taat. Ibadah mereka saja dalam menolong masyarakat seringkali diliput oleh media. Namun apa yang terjadi ? Mereka masih saja berbuat sesuatu yang memperdaya rakyat. Mengumbar janji-janji kepada rakyat yang seringkali tidak ada realisasinya. Artinya, sholat yang dilakukan itu belum bermakna bagi pemimpin tersebut. Nabi SAW bersabda : "Barang siapa yang sholatnya tidak bisa menahan dia dari perbuatan keji dan mungkar, maka sholatnya hanya akan menambah kemurkaan Allah serta jauh dari Allah." Apalagi mereka yang tidak pernah melakukan itu sama sekali, bagaimana bisa menjadi pemimpin yang baik kalau tidak pernah melaksanakan perintah Tuhan semesta alam ?

Mereka mengaku pro rakyat, lemah gemulai, tapi kebijakan mereka hanya untuk kepentingan golongan dan kroni saja. Gelar pendidikan mereka saja rata-rata Master (S2) yang jika ditilik mereka adalah sosok sangat intelektual. Namun, pemimpin itu cenderung memainkan politik belah bambu, yakni memilih-milih rakyat yang dikehendakinya. Sehingga banyak masyarakat miskin yang masih terabaikan karena tidak ada berhubungan kepentingan dengan sang pemimpin.

Tulisan ini bukan maksud memojokkan sang pemimpin. Tapi baik untuk membuka mata masyarakat, benarkah sebahagian besar isi tulisan ini demikian ? Jawaban jujur ada di hati nurani pembaca sekalian, sebab rumus dari sebuah tulisan adalah dapat dibuktikan faktanya dalam kehidupan kita. Kita lihat kondisi saat ini, yang katanya sudah merupakan zaman reformasi jilid 2, namun apa riilnya bagi kehidupan masyarakat Riau ini ? Dari Indragiri Hilir sampai Rokan Hilir, dari Pesisir hingga ke Kampar, sudahkah masyarakat di Riau ini benar-benar memiliki pemimpin sejati yang sebenarnya ? Ataukah hanya terombang-ambing oleh kepentingan politik semata ? Jawabannya ada di hati kita. ***


Oleh : Beni Yussandra,SMn (Pimpinan Redaksi SKM Putera Riau)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »