Kenapa Allah Ciptakan Koruptor ???

Posted by On Thursday, December 15, 2016


Segala alam dan isinya tanpa kecuali adalah ciptaan Allah SWT. Bila Allah menciptakan sesuatu yang disukai, disenangi atau dicintai-Nya, maka dapatlah dimengerti. Tapi kenapa Allah juga menciptakan iblis yang sudah terang jahat dan bahayanya ? Bahkan Allah sering sekali berfirman dalam Kitab Suci-Nya, bahwa iblis dan syetan itu adalah musuh Allah dan musuh manusia. 

Pertanyaannya adalah kenapa Allah menciptakan musuh-Nya ? Kenapa Allah menciptakan orang-orang jahat yang sangat dimarahi-Nya ? menciptakan orang kafir, musrik, munafik, atheis dan para koruptor ? Mesti menjadi tanda tanya bagi kita termasuk pribadi penulis sendiri yang telah lama bertungkus lumus menyaksikan fenomena ini.

Tentunya hal ini menjadi masalah terberat bagi kita untuk paham. Jangan karena terlalu banyak ilmu dan teori sehingga kita 'gagal paham' akan pertanyaan yang dikemukakan diatas. Koruptor semakin merajalela dipermukaan bumi, termasuk Indonesia, Propinsi Riau khususnya. Kalau analisis kita bisa saja Allah yang maha kuasa mengatakan 'Kun fayakun' berhenti korupsi, maka pasti segala jenis korupsi di bumi akan berhenti. Ternyata tidak demikian yang pada kenyataannya harus kita pahami.

Inilah selama ini yang menjadi pemikiran saya sebagai seorang penulis dalam memahami hakikat kehidupan yang diciptakan oleh Allah SWT. Pertama-tama kita mesti membicarakan perbedaan antara kehendak Allah (Masyiah) dan kesukaan Allah (Mahabbah). Karena banyak sebahagian manusia menganggap bahwa kehendak Allah adalah identik (sama) dengan kesukaan, keredhaan dan kecintaan Allah. Disinilah letaknya kesukaran dan kesulitan bagi mereka yang memahamkan masalah rumit dan sukar ini.

Dalam beberapa ayat Al-qur'an, Allah telah membantah anggapan yang mengatakan bahwa kehendak dan qadha Allah sejalan atau sejajar dengan kesukaan dan keredhaan-nya, yaitu anggapan dari orang-orang musrik dan orang-orang kafir.

Firman Allah dalam Surah Al-An'am 148 ("Berkata orang-orang musrik : Jika dikehendaki Allah, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya, dan tidak kami haramkan apa-apa. Begitu juga dengan orang-orang yang sebelum mereka membikin dusta sehingga mereka merasakan akan siksaan Kami. Katakanlah: Adakah kamu mempunyai keterangan yang bisa kami tunjukkan kepada Kami ? Kamu hanya mengikuti sangkaan, dan kamu hanya berdusta").

Kemudian dalam Surah An-Nahl 35 ("Dan berkata orang musrik: Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak sembah apapun selain-nya, tidak pula bapak-bapak kami, dan tentu kami tidak haramkan sesuatu apapun dengan tidak keizinan-Nya. Demikian ucapan yang sebelum mereka dan tidaklah kewajiban Rasul-rasul kecuali menyampaikan secara terang).

Mereka membubuhkan alasan atas kecintaan mereka terhadap kesyirikan, bahwa kesyrikan mereka itu adalah atas kehendak Allah jua. Dengan alasan inilah mereka menyanggah perintah dan larangan Allah. Kedua ayat diatas adalah bantahan yang nyata sekali atas anggapan orang yang menyamakan kehendak dan kesukaan Allah. Kemudian kekeliruan mereka timbul karena mereka menyamakan kehendak dan keridhaan Allah SWT.

Tetapi orang yang dapat memperbedakan antara dua hal yang berbeda, yaitu antara kehendak dan keredhaan (antara masyiah dan mahabbah), bahwa keduanya adalah dua, bukan satu, keduanya tidak akan identik, akan terhindar dari kekeliruan ini. Misalnya, Allah dalam beberapa kejadian, menghendaki (terjadinya) sesuatu yang disukai-Nya, dan kadang-kadang menyukai apa-apa yang tidak dikehendaki-Nya terjadinya. Yakni, Allah suka kalau orang kafir itu beriman, tetapi orang kafir itu tetap tidak beriman. Allah menghendaki adanya iblis, syetan dan konco-konconya, tetapi Allah tidak menyukai akan iblis dan konco-konconya itu.

Maka ini dapat disimpulkan bahwa kehendak lain dari kesukaan, dan bahwa Allah tidaklah memerintahkan agar kita menyukai segala apa yang diciptakan dan dikehendaki-Nya, maka akan hilanglah keragu-raguan dan kekeliruan, berubahlah kerumitan itu menjadi kegampangan. Syariat-Nya tidaklah meniadakan qadar-Nya; begitu juga qadar-Nya tidak meniadakan syariat-Nya.

Jadi, perilaku jahat dan korupsinya pejabat dan elit politik itu adalah sebuah kehendak Allah yang tidak disukai-Nya. Namun, Allah akan suka pada pejabat dan elit politik yang baik, bersih dan lekas-lekas bertaubat. Kenapa diciptakan kemungkaran, kejahatan dan perilaku negatif lainnya itu adalah karena kehendak Allah yang tidak disukai-Nya. Tinggal kita berfikir akankah kita dapat merubah dengan segala kerelaan kita kembali ke jalan-Nya, ataukah tetap berkubang pada jalan kesesatan yang nyata, hanya pribadi kita yang mengetahui. Wallahu 'Alam bissawab. ***
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »