Blusukan Pemimpin Saat ini, Hati Nurani Atau Pencitraan Doang???

Posted by On Tuesday, December 27, 2016

Fenomena Jokowi yang santer disebut-sebut saat ini terkait suatu metode menjumpai rakyatnya dengan istilah 'blusukan' ternyata bukanlah sebuah barang baru. Bedanya blusukan ala Jokowi selalu diliput media, yang pastinya sebuah program turun lapangan yang sudah dirancang dan dipersiapkan. Sementara pada zaman dahulu, semasa Kalifah Umar bin Khattab, blusukan sang Kalifah tanpa ada rancangan dan tanpa liputan media.
 Jika kita perhatikan lebih jauh, blusukan yang dilakukan Kalifah Umar bukanlah sebuah pencitraan politik. Lebih kepada rasa tanggung jawabnya pada umat dan rakyatnya. Beliau bahkan tak segan-segan menyamar sebagai penduduk biasa dan berjalan kaki menyusuri kampung demi kampung pada malam hari seorang diri untuk melihat dengan mata kepala sendiri keadaan rakyatnya. 

Dalam satu kisah, pada suatu malam, Kalifah Umar pernah investigasi sendiri ke sebuah perkampungan. Ia tertarik melihat sebuah kemah kecil di pinggir jalan. Oleh Kalifah Umar didekatinya kemah itu dan tampaklah olehnya bahwa didepannya duduk termenung seorang laki-laki, sedang dari dalamnya terdengar erangan seorang wanita yang merintih kesakitan.

Mendengar itu, Kalifah Umar lalu menanyakan pada laki-laki itu yang kemudian dijawabnya : "Saya adalah orang asing yang sedang mengembara. Saya bermaksud menghadap Kalifah Umar untuk meminta perhatian beliau terhadap nasib kami sekeluarga." Kalifah Umar lantas bertanya : " Lalu siapakah wanita yang mengerang menderita seperti itu ?". Dijawab laki-laki itu, "Wanita itu adalah istri saya, dia hendak melahirkan, tetapi kami tidak mempunyai bekal sedikitpun, baik makanan ataupun pakaian untuk menyambut kelahiran sang bayi."

Mendengar hal ini, Kalifah Umar segera pulang ke rumahnya dan bercerita pada istrinya tentang kejadian yang baru saja dilihatnya. "Kalau begitu", kata istrinya, "Biarkan saya yang membantu kelahirannya." Kemudian, Kalifah Umar beserta istri bergegas kembali ke kemah laki-laki itu dengan membawa bekal makanan, pakaian bayi, dan juga obat-obatan.

Begitu sampai di tempat kemah itu, istri Kalifah Umar langsung turun tangan membantu wanita tadi untuk melahirkan, sedang Kalifah Umar sendiri memasakkan makanan. Setelah segalanya selesai dengan selamat, barulah laki-laki asing beserta istrinya tadi mengetahui, bahwa yang menolongnya itu tidak lain adalah Kalifah Umar bersama istrinya. Ketika Kalifah Umar berpamit hendak pulang, laki-laki itu bertanya : "Apakah Baginda mengurus kepentingan keluarga sendiri seperti mengurus kepentingan kami ?".

Kalifah Umar bin Khattab tidak menjawabnya secara langsung, tetapi beliau mengucapkan kata-kata yang penuh hikmah. "Barang siapa yang dipercayakan memegang urusan-urusan kaum muslimin, maka seharusnya dia memperhatikan kepentingan-kepentingan orang banyak, baik orang-orang yang lemah maupun orang-orang yang kuat. Dia bertanggung jawab terhadapnya. Apabila dilupakan, maka hal itu adalah kerugian besar baginya di dunia dan di akhirat kelak."

Itulah salah satu kisah blusukan sang Kalifah yang merupakan kerendahan hati beliau sebagai pemimpin umat. Seorang kepala negara yang mempunyai kedudukan tinggi, namun benar-benar memiliki nurani untuk bertemu langsung dengan rakyatnya tanpa adanya kawalan, perencanaan apalagi proses pencitraan melalui liputan media.

Lalu bagaimana dengan blusukan-blusukannya pemimpin saat ini yang konon katanya adalah sebagai keberpihakan kepada rakyat, sementara masih ada kesan pengaturan sehingga tidak jelas hasil blusukan tersebut. Terpenting, bagaimana dengan proses turun ke masyarakatnya seorang pemimpin tersebut lebih kepada seremonial belaka yang selalu di yel-yel kan oleh media massa.

Ironisnya, bukannya memberikan harapan dan solusi pada masyarakat, proses blusukan justeru hanya untuk kepentingan politik praktis. Masyarakat yang dijumpai bukannya berubah, bahkan dalam kasus relokasi seperti yang ditampilkan Mantan Gubernur nonaktif Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok beberapa waktu lalu, rakyat cenderung mengalami kemiskinan yang berlarut-larut akibat adanya penggusuran. Jadi, proses turba alias turun ke bawahnya seorang pemimpin bukan tergantung tindakannya semata namun lebih kepada niat dan manfaat bagi rakyat itu sendiri.

Sementara itu, proses blusukan yang dilakukan oleh Kalifah Umar bin Khattab murni pada panggilan hati sebagai tanggung jawab moral kepada umat. Tidak ada media kala itu, tidak ada peng-agungan saat itu, sebab zaman realita yang masih mengenal hukum kausal sebab akibat pasca era jahiliah. Kalifah lebih memilih tidak diketahui oleh rakyatnya jika sedang turun untuk menghindari adanya politik mercusuar. Dimana kebiasaan masyarakat jika seorang pemimpin turun, tentu setidaknya mempersiapkan sesuatu yang berbeda dari kenyataannya.

Merunut dari hal itu, kita berharap blusukan yang dilakukan pemimpin kita kedepan jauh dari sekadar pencitraan politik. Jauh dari hura-hura dan aksi eksistensi semata. Pastinya untuk kemaslahatan umat, berbangsa dan bernegara serta memahami kehidupan rakyat sebenarnya tanpa ada sebuah skenario pengaturan untuk menutupi sebuah kekurangan dalam kehidupan rakyat itu sendiri. ***

Oleh : Fadila Saputra, Pimpinan Umum SKM Putera Riau/www.puterariau.com
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »